MEMBANGUN KEMBALI OMAH GEDHEK SROTONG KHAS MALANG

0
113

Oleh : Cokro Wibowo Sumarsono

Kawasan Malang merupakan daerah subur yang banyak ditumbuhi oleh beragam jenis rumpun bambu. Tumbuh subur di sepanjang hulu Kali Brantas beserta anak sungainya yang membelah Kota Malang. Tumbuh berkembang di banyak pategalan yang terhampar diantara Gunung Semeru di timur, Gunung Kawi di barat dan Gunung Arjuno di sebelah utara. Sejak dulu bambu merupakan jenis tanaman yang mudah dibudidayakan, bahkan cenderung tumbuh liar menyebar di banyak wilayah. Bambu sangat membantu kebutuhan dasar manusia dalam membangun piranti papan panggonan, rumah sebagai tempat membangun keluarga inti dan membesarkan buah hati.

Dalam bahasa Jawa bambu disebut dengan pring atau deling. Pring bermakna peparing, yaitu segala yang ada merupakan pemberian dari Yang Maha Kuasa. Sedangkan deling bermakna kendel tur eling, artinya berani menghadapi kenyataan hidup serta senantiasa berserah diri dan mengingat untuk bersujud kepada Sang Khaliq dalam tiap hembusan nafas. Bambu merupakan jenis tanaman yang berperan besar dalam menjaga kelestarian sumber-sumber air serta memiiki manfaat serbaguna bagi manusia. Kelebihan bambu adalah proses kembang tumbuhnya yang luar biasa cepat serta harga yang sangat terjangkau bagi warga kebanyakan. Terdapat puluhan jenis bambu diantaranya adalah ori, wulung, kuning, petung, rampal, apus dan lain-lain.

Di wilayah Malang sebelum pengaruh kolonial menancapkan pengaruh besarnya dalam arsitektur bangunan bergaya Eropa, telah dikenal beragam bangunan arsitektur kuno asli Jawa yang terbuat dari bahan dasar utama batu, kayu, bambu atau campuran antara bambu dan kayu. Bangunan berbahan dasar batu dibangun oleh kalangan Istana sebagai bangunan masterpiece masa kejayaan kerajaan Kanjuruhan dan Singhasari. Merupakan bangunan yang fungsinya sebagai wahana olah spiritual seperti Candi Badut, Candi Jago, Candi Kidal dan Candi Singosari.

Bangunan kayu terdiri atas beberapa jenis dan bentuk, diantaranya adalah joglo, limasan, sinom, srotong, panggang pe dan lain-lain. Bangunan joglo dibangun untuk balai pertemuan baik balai pertemuan di depan rumah (ndalem) sesepuh kampung, balai dusun, balai desa, pendopo kadhipaten hingga pendopo keraton. Untuk warga masyarakat pada umumnya bangunan berbentuk srotong adalah jenis arsitektur tradisional yang paling banyak menjadi pilihan warga. Mengingat kesederhanaan konstruksi bangunan serta murahnya biaya bahan baku yang diperlukan. Srotong bisa dibuat dari bahan kayu, bambu ataupun kombinasi antara bambu dengan kayu sekaligus. Pada masa selanjutnya dikenal istilah bangunan klenengan, yaitu bangunan kombinasi batu bata di bagian bawah serta kayu dan bambu untuk bagian atasnya.

Omah gedhek adalah sebutan untuk rumah yang berdinding anyaman bambu, biasanya digunakan dalam jenis rumah srotong, meskipun kadangkala juga digunakan oleh rumah jenis limasan yang seringkali kehabisan bahan baku berupa dinding kayu. Dalam tulisan ini kita akan fokus kepada pembahasan rumah gedhek jenis srotong yang dahulu banyak berkembang di wilayah Malang. Omah gedhek srotong terdiri atas sebuah bangunan berbahan dasar bambu dan kayu atau seringkali full terbuat dari bahan bambu saja. Rumah induk berbentuk srotong yang dilengkapi dengan emperan serta dapur (pawonan) dengan bentuk panggang pe, empyak atau bleketepe. Rumah utama terdiri atas sebuah balai (bale), beberapa kamar dan sebuah kamar kecil yang berfungsi sebagai gudang yang biasa disebut dengan istilah sarong.

Bale berfungsi sebagai tempat menerima tamu yang sedang berkunjung (sonjo) ke rumah tersebut. Dilengkapi dengan dua buah amben untuk jagongan secara lesehan. Amben untuk pria dipisahkan dengan amben untuk wanita. Amben terdiri atas kayu yang melintang (galar), kayu yang membujur panjang (pikul/entol), bambu yang diremukkan (plopor/plupuh) serta tikar (klasa) yang terbuat dari pandan atau mendong.

Sarong berfungsi untuk gudang penyimpanan alat pertanian, alat pertukangan, serta bahan makanan pokok yang telah dikeringkan. Alat pertukangan diantaranya meliputi pecok, perkul, graji, tatah, pethil, gandhen dan wedhung/wadhung. Alat pertanian diantaranya adalah pacul, arit, bodhing, caluk, ani-ani, wangkil, capil, luku, garu, singkil, brojol, lempak dan caluk arit.

Bahan makanan pokok yang telah dikeringkan disimpan dalam wadah penyimpanan yang khusus digunakan untuk itu. Beras disimpan di dalam pedaringan yaitu semacam genthong penyimpanan beras. Dilengkapi dengan alat takar dari batok kelapa gading yang disebut dengan nama beruk. Jagung kering pipil disimpan dalam bajong , sebuah anyaman besar yang terbuat dari bambu. Wadah makanan kering lainnya adalah anyaman bambu berbentuk kotak setengah bulat yang dalam berbagai ukuran, pithi untuk ukuran kecil, tompo untuk ukuran sedang dan tumbu untuk ukuran besar.

Di dalam kamar tidur terdapat grobog atau gledheg, sebuah tempat penyimpanan barang atau benda berharga yang terbuat dari papan kayu ukuran tebal. Grobog merupakan meubelair kuno yang mobile karena memiliki empat roda kecil dari kayu yang berfungsi untuk memindahkan benda tersebut dari satu tempat ke tempat lainnya. Di atas sebuah grobog didesain sedemikian rupa yang bisa digunakan untuk tempat tidur.

Omah pawon terdiri atas beberapa bagian penting diantaranya adalah luwengan untuk membuat perapian guna memasak. Luwengan dilengkapi dengan badhugan untuk tatakan menggerus bumbu atau meletakkan wajan, panci atau dandang. Di sebelahnya terdapat beberapa genthong air ukuran besar beserta siwurnya. Terdapat pula ranji yaitu lemari kecil dari bambu atau kayu untuk tempat makanan yang sudah dimasak.

Di pojok pawon biasanya dilengkapi dengan kurungan ayam babon dan ayam jago yang disertai dengan pangkringan di luar kurungan. Lesung dan lumpang beserta alunya adalah piranti utama untuk menumbuk padi, memisahkan bulir-bulir padi dari kulitnya. Sedangkan untuk menyimpan barang-barang di pawonan disebut dengan pogo yang biasanya menggantung di bawah atap.

Atap omah gedhek adalah genting clumpring yang terbuat dari tanah liat. Lebih kuno lagi atapnya berupa kombinasi instalasi bambu yang ditata sedemikian rupa yang biasa disebut dengan istilah klakah. Klakah adalah tatanan bambu yang saling menumpuk bolak-balik serta telah dibelah dan telah dihilangkan ruas (ros) nya. Bagian paling atas dari atap adalah bubungan atau wuwungan, bisa terbuat dari bambu ataupun dari tanah liat. Di bawah atap terbuat sorsoran dari bambu.

Untuk bagian teras (emperan) rumah atapnya berbentuk empyak atau panggang pe atau bleketepe. Bisa difungsikan sebagai tempat berjualan semacam warung pracangan, soto pikul, dawet pikul, tape pikul, gulali dan lain-lain. Jika emperan rumah digunakan untuk berjualan maka akan dilengkapi dengan jodhog, semacam lapak tempo dulu. Beberapa jodhog yang berderet disebut dengan bedhak, semacam cikal bakal ruko jaman dulu. Di atas jodhog ada rodhong, tanggok dan tempeh untuk menggelar jajanan atau makanan kecil. Tempat air terbuat dari bambu, seng dan tanah liat (kendi).

Tanah dimana akan dibangun rumah biasanya dipadatkan terlebih dahulu, kemudian diberi tatanan batu sebagai pondasi serta batu bata yang diplester sederhana dengan menggunakan campuran gamping dan semen abang (potongan bata yang dihaluskan). Pintu sederhana berupa pintu geser dari anyaman bambu. Ada juga yang menggunakan pintu kupu tarung dari kayu beserta kusen-kusennya. Jika pintu dari gedhek biasanya dilengkapi dengan toak, yaitu tongkat penyangga pintu dan jendela. Jendela terdapat di bale dan kamar tidur. Agar tidak terocoh atap dilengkapi dengan pyan dari gedhek, baik secara menggantung ataupun menempel di atap.

Di belakang rumah terdapat sumur kedhuk, jedhing, padasan, blumbang, joglangan serta kandang ternak.
Jedhing krodhongan adalah sebuah kamar kecil yang dikelilingi oleh gedhek dengan atap terbuka serta dilengkapi dengan genthong besar tempat air. Tempat buang hajat disebut dengan jumblengan. Tempat membuang sampah dinamakan joglangan, galian tanah selebar satu hingga tiga meter. Saluran pembuangan air disebut dengan peceren.

Kolam untuk pelihara ikan disebut dengan blumbang, sebuah kolam berdinding tanah yang telah dipadatkan serta diperkuat dengan anyaman bambu utuh yang disebut dengan sesek. Untuk menjemur baju digunakan tempat jemuran dari bambu yang disebut dengan ongkek. Kandang ternak terdiri atas palon yang berupa kombinasi kayu dan bambu yang dapat dibongkar pasang. Dilengkapi dengan palungan dan comboran untuk pakan ternak, serta ‘diangan’ untuk tempat perapian guna menghasilkan asap untuk mengusir nyamuk yang kerap menggigit ternak. Di depan rumah terdapat gantangan burung perkutut atau burung oceh-ocehan.

Emperan rumah dilengkapi dengan kenthongan sebagai media komunikasi dan piranti keamanan. Sebagai batas tanah pekarangan dibuat pagar dari tanaman hidup seperti beluntas, ribang, turi, lamtoro dan lain-lain yang biasa disebut dengan istilah pager turus. Jika si empunya rumah memelihara tawon maka di sekitar rumah dibuat glodhog yang terbuat dari batang pohon kelapa (glugu). Jika si empunya rumah memelihara merpati maka dibuatlah kandang merpati yang disebut dengan pagupon.

Untuk penerangan di waktu malam menggunakan cempluk atau ublik, oncor, petromaks serta damar gantung. Gabes adalah bantal jadul yang terbuat dari kayu randu, gulungan damen ataupun kapuk randu. Sebagai tempat duduk digunakan dingklik atau dampar. Semua bangunan kuno tidak menggunakan paku namun memakai sistem bongkar pasang yang diperkuat dengan pantek, tali bambu (tutus) ataupun tali ijuk (tali duk).

Membangun kembali prototype omah gedhek srotong diperlukan guna memupuk rasa kebanggaan dan rasa handarbeni (memiliki) masyarakat perkotaan akan akar tradisi asli di tengah kepungan bangunan langgam kolonial. Membangun omah gedhek srotong berarti memberi ruang berkembangnya kembali adat istiadat yang makin tergerus oleh anasir luar. Akan memicu tumbuh berkembangnya permainan-permainan tradisional yang telah kehilangan tempat untuk bermain. Serta mengenalkan kepada kawula muda bahwa kita memiliki karakter, memiliki teknologi tradisional, memiliki sesuatu yang khas, jauh sebelum tradisi kolonial merenggut mindset masyarakat bahwa rumah itu harus terbuat dari tumpukan bata, semen dan beton cor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here