TATANAN DUNIA BARU YANG BERKEADILAN SOSIAL

0
74

Oleh : Cokro Wibowo Sumarsono

Tatanan politik dunia baru yang berkeadilan tidak akan pernah tercapai jika hanya berpedoman pada kemajuan teknologi informasi saja. Tatanan politik dunia baru yang berkeadilan sosial hanya bisa diciptakan dengan adanya kemandirian sebuah bangsa. Tanpa adanya spirit untuk berdikari sendiri pasti akan mempengaruhi cara pandang dalam menjalin hubungan diplomatik dengan bangsa lain.

Perbedaan cara pandang seringkali dialami oleh simpul-simpul lintas generasi. Yang namanya generasi baru pastilah kelompok generasi muda yang progresif, sedangkan para tokoh sepuh adalah generasi lama yang sudah berpengalaman namun seringkali kehilangan inovasi dan kreatifitas. Kurang tepat rasanya jika mengatakan bahwa generasi baru tidaklah harus muncul dari generasi berusia muda.

Pengambilan keputusan di luar norma umum sebenarnya sah-sah saja, namun harus tetap berpedoman kepada konstruksi hukum tertulis dan adat tradisi yang sudah berkembang. Pola out of the box bagus diterapkan guna memangkas rantai mafioso dan jaringan para pemburu rente, namun kurang tepat jika diterapkan secara umum sebagai kebijakan publik yang dapat membingungkan khalayak ramai dan memunculkan potensi kegaduhan.

Penggunaan term barat seperti ‘Thucydides’s Trap’ merupakan wujud belum diterapkannya revolusi mental secara utuh, karena kita masih terbuai oleh teori-teori berbau barat yang sebenarnya kurang tepat diterapkan dalam suasana kebatinan bangsa Nusantara. Munculnya sebuah kekuatan (negara) baru yang dianggap dapat mengganggu kekuatan lama sebenarnya sudah pernah kita alami. Yakni pada saat berdirinya Majapahit dan Republik Indonesia. Raden Wijaya dan Bung Karno sudah cukup memberikan pelajaran berharga kepada kita bagaimana cara dan strategi dalam menghadapi kekuatan negara adidaya. Lebih hebat jebakan Raden Wijaya kepada pasukan China Mongol Tartar daripada jebakan Thucydides.

Dominasi kekuatan China tidak hanya terjadi pada saat ini saja. Dahulu koalisi Mongol-China Tartar juga telah menaklukkan belahan dunia bagian utara. Pada saat menyerang Jawa pasukan mereka adalah para tentara China meskipun komandan-komandan tempurnya adalah bangsa Mongol. Bahkan saat ini ada sebagian wilayah adat Mongol yang masuk secara resmi dalam negeri China yakni Mongolia Dalam. Di negeri China spirit Jenghis Khan yang offensif menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi bangsanya. Suatu hal yang patut kita pertimbangkan jika harus membawa negara berkiblat ke negeri tirai bambu tersebut.

Meninggalkan Amerika Serikat adalah sebuah keharusan, namun merapat ke China bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Istilah Jawanya kutuk marani sunduk, bagai seekor ikan gabus yang mengorbankan diri dengan menusukkan tubuhnya sendiri kepada bilah bambu yang tajam. Mirip pepatah ‘keluar dari mulut singa masuk kepada mulut buaya.’

Indonesia harus bisa berdiri sendiri dengan tegaknya, bahkan kalau perlu memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan China sekaligus. Indonesia cukup bekerjasama dengan negara-negara yang mau duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi sesuai dengan prinsip kuno Mitreka Satata yang dirumuskan sebagai politik luar negeri yang bebas aktif. Seperti era Sukarno, Indonesia harus mampu menggalang poros kekuatan internasionalnya secara mandiri.

Sikap Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Jerusalem seharusnya bisa menjadi titik awal persatuan barisan anti kolonialisme lintas faksi di Tanah Air guna summend bundelling van alle revolutionare chachten. Menyatukan segenap potensi kekuatan revolusioner. Perlu diciptakan isu bersama guna menyatukan kembali kekuatan perjuangan yang kemarin sempat terobek-robek akibat dampak politik elektoral.

Kita tidak perlu memiliki senjata pembunuh massal nuklir karena jelas-jelas bertentangan dengan prinsip sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, sebaliknya yang kita perlukan sebagai daya ungkit kekuatan adalah pembasisan prinsip Nation and Character Building.
Perkembangan Teknologi Informasi merupakan sebuah keharusan, namun jika dikembangkan guna mempengaruhi hasil Pemilu Presiden dengan cara menyusup ke hati dan pikiran individu secara massal justru akan semakin menjauhkan kita dari rumusan prinsip musyawarah mufakat.

Pembacaan situasi internasional dengan pendekatan perangkat keras akan membahayakan sisi ideologis sebuah negara. Sebaliknya kita harus membaca situasi internasional dengan pisau analisa ideologis kultural agar tidak terjebak pada pola permainan dua kekuatan negara adidaya. Gunakan Siasat Raden Wijaya Jenderal !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here